Entri Populer

Sunday, 17 September 2017

Berhentilah Sok Ingin Jadi Pahlawan Sementara Dirimu Sendiri Butuh Bantuan--Ulasan Buku Vegetarian karya Han Kang





Teknik Bercerita dan Tokoh-Tokoh yang Berbohong


Tokoh-tokoh dalam buku ini tidak bisa dipercaya.

*baca dulu bukunya, ulasan ini mengandung spoiler


*baiklah, setidaknya kamu sudah diingatkan



Model bercerita di buku ini membuat saya langsung teringat Grotesque karya Natsuo Kirino. Tokoh-tokoh lain membicarakan tokoh utama: ketika hidup, sebab kematiannya, hingga efek setelah kematiannya.
Kalau di buku ini, tokoh-tokoh lain membicarakan Yeong Hye: dulu ketika ia masih "normal" dan setelah ia memutuskan jadi vegetarian. Efeknya pada diri si tokoh itu sendiri, dan orang-orang di sekitarnya.


Di Grotesque, si tokoh yang digunjingkan meninggalkan diary untuk bercerita sebagai "aku", kalau di Vegetarian tokoh masih disediakan tempat untuk curhat di sela-sela penceritaan suami.

Berkat itu, kita jadi tahu asal mula kenapa dia memutuskan berhenti makan daging.



Persamaan lain adalah... ketika tokoh bercerita sebagai "aku", berbeda kesan ketika tokoh tersebut diceritakan tokoh lain.

Demikian pula, terhadap orang yang sama, muncul kesan berbeda dari tiap-tiap pencerita.

Ini menarik. Karena seperti dalam kehidupan nyata pun demikian.

Kalau tiap orang mau jujur, ada perbedaan pendapat ketika mereka ditanya tentang seseorang. Misal, muncul pertanyaan tentang X. A akan menjawab X baik, B berpendapat X banyak mengeluh, sementara bagi C si X adalah orang yang munafik. Tapi, seperti sudah kita ketahui, jarang sekali orang mau jujur. Risikonya kelewat mengerikan.

Di Grotesque, misal. Si tokoh jahat menulis kisah tentang dirinya dengan menyatakan bahwa dirinya tertekan kondisi di desanya. Dengan wajahnya yang tampan, ia merasa perlu mendapat kesempatan. Begitu tokoh lain bercerita, dia menggambarkan si tokoh jahat dengan wajah yang jelek. *saya kesel, sih. Soalnya sudah beratus halaman sebelumnya dibuat percaya dengan bualan si penjahat tentang dirinya sendiri. Tapi, sejak saat itu, saya waspada: bukan hanya tokoh-tokoh di novel detektif yang tidak boleh langsung dipercaya pembaca.



Pada buku Vegetarian, tokoh suami Yeong Hye (wanita yang memutuskan jadi vegetarian), berperan seperti suami yang seakan jadi korban. Entah ada pembaca yang merasa iba atau tidak kepadanya, sejak awal saya sudah tidak suka dengan karakter ini. Orang yang memilih istri yang "biasa-biasa saja" hanya agar dia merasa aman sungguh memalukan.

Ada sikap asli yang ditunjukkan sebenarnya. Sedikit. Tapi jelas, karena itu cerita dari sudut pandang Yeong Hye.



"Sial, kamu mau terus bergerak lamban seperti itu?" (p. 23)


Suami yang cuma pingin cari istri agar hidupnya terlayani, dan berucap kasar begitu, membuat saya kesal. Juga kesal kepada istrinya yang manut-manut aja. Tapi ya nyatanya banyak begitu di kehidupan nyata.



Jadi, kesan si suami yang sok pedih adalah omong kosong. Dia mulai merasa ketenteraman hidup yang diangankan terguncang karena istrinya bukan lagi jadi makhluk standar sejak jadi vegetarian.



Kakak Ipar Yeong Hye pun berbohong. Ketika ia bisa terangsang dengan membayangkan tanda lahir, tapi kemudian merasa baik-baik saja karena setelah melihat tanda lahir itu dia masih bisa menahan diri untuk tidak melakukan hubungan.



Sejak awal ia memang hanya ingin merekam tubuh bugil wanita ini, tapi ia tak menyangka bahwa itu tak membangkitkan gairah seksualnya. (p. 107)


Ternyata tidak.

Dia berjuang meminta sang mantan melakukan body painting padanya agar ia bisa mendapatkan tubuh dengan tanda lahir itu.

Bahkan....



“Kuharap aku bisa memundahkan ini ke lidahku.”

“Apa?”

“Tanda lahir kebiruan ini.” (p. 140)


Rangsangan tanda lahir itu demikian kuat baginya. Dan ia memang berjuang demi mendapatkannya, setelah beberapa kali melakukan penyangkalan. Tujuan utamanya tetap seperti yang dia sampaikan di awal bercerita: ia ingin bercinta dengan si pemilik tanda lahir. Segala pertahanan diri dan seni itu hanyalah jembatan untuk mencapai tujuan dengan sesedikit mungkin perasaan bersalah. 

Dia memang sempat merasakan keraguan di halaman 72 dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri. Ketika ia mulai merasakan gairah kepada adik iparnya.  Namun, sebelumnya, pada halaman 67, ia sebenarnya sudah bertekad untuk mewujudkan impiannya. Setelah menonton pertunjukan seni yang ia harap bisa menggambarkan sesuai bayangannya, ternyata ia malah jadi merasa tidak ada yang dapat mewujudkan mimpinya selain dirinya sendiri.

Apakah ini ada hikmahnya? Seandainya ada  ... bahwa akhirnya ia terpaksa mewujudkan mimpinya. Mimpinya--apakah ada orang lain yang bisa menggantikan dirinya untuk mewujudkannya?



Dan coba lihat ketika petugas ambulans datang, si kakak ipar sempat bertekad bahwa tak apa, dia sudah siap menghadapi segalanya karena sudah membuat mahakarya.

Nyatanya, ketika kakak Yeong Hye yang mendapat giliran bercerita, ternyata ada sorot ketakutan di mata suaminya itu ketika petugas datang, dan si pembuat mahakarya pun mencoba bunuh diri.



Yeong Hye sendiri berkata tidak bisa bercinta. Sebabnya, ia bisa merasakan hasrat ingin bercinta justru karena gambar bunga. Ketika body painting selesai, mereka mulai bercinta dalam gelap (mananya yang terangsang karena bunga??) dan Yeong Hye mau hanya karena dia mencium bau cat. -_-"

Selesai bercinta, baru dia minta lampu dihidupkan untuk memperhatikan gambar bunga di tubuh lawan bercintanya. 

Berarti tokoh utama ini pun berdusta. Bukan karena bunga (setidaknya tidak secara visual) dia terangsang.



Dari bagian terakhir, cerita itu mulai menjadi pelengkap puzzle mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Yeong Hye. 



Lagi-lagi, keluarga, kan.

Saya selalu suka buku yang bercerita mengenai sebab-akibat dalam hal-hal yang terjadi dalam sebuah keluarga kepada anak-anak di dalamnya. Karena pelajaran yang bisa dipetik jadi beragam sekali.

Si sulung selalu berusaha menjadi penerima beban tanggung jawab. Selalu berusaha jadi orang baik. Capek pasti dia. Siapa yang nggak capek kalo selalu berusaha jadi orang baik. Hampir gila juga. Kan dia curhat, kalo bukan adiknya, bisa jadi dia yang bakal mengalami.


Tak lama waktu berlalu, ia menyadari sebuah kenyataan, yakni orang yang ingin ia lihat beristirahat justru bukan suaminya, melainkan dirinya sendiri. (p. 158)
Itu juga salah satu curhatannya yang menyatakan bahwa dia sudah sangat lelah. Berusaha, selalu berusaha untuk orang lain. Saya juga tidak suka dengan tokoh ini. Dia berlagak jadi pahlawan, padahal dirinya sendiri butuh bantuan.


Si bungsu tidak terlalu tertekan karena menyalurkan apa yang ia terima. Pukulan dibalas pukulan. Bedanya, yang menerima pukulan balasannya adalah anak tetangga, bukan yang memukuli dia.


Si tengah selalu berusaha menerima. Seakan itu takdir yang digariskan untuknya. Beberapa kali ia pernah mencoba kabur, berontak, keluar. Ia menyatakan tidak mau pulang dari hutan, misal, ketika sedang pergi dengan si kakak. Atau tentang si anjing. Tapi, pada akhirnya, ia memilih menekan hal itu dan memunculkan lagi sikap menerima.



Kebayang nggak betapa melelahkan hidup seperti itu? Ingin berontak tapi harus menerima. Itu semua terekam di bawah sadar, dan tersulut dalam bentuk mimpi karena sebulat darah karena goresan. 



Setetes darah merah mengalir cepat ketika aku mengangkat telunjukku. Bulat, lebih bulat. Hatiku langsung tenang setelah aku memasukkan jariku ke mulut. Anehnya, warna merah dan rasa agak manis ini seakan berhasil menenangkanku. (p. 23)


Saya pernah baca kisah serupa, pemberontakan istri yang tersulut melihat bekas darahnya yang akan dia bersihkan di ujung karpet. Biasanya dia akan menggosok saja bekas darah begitu, dan melanjutkan hidup sebagai istri yang patuh karena lagi-lagi tidak menemukan jalan keluar yang mungkin. Rapi, saat itu seperti mendapat wangsit, dia memutuskan pergi. (Kalau tidak salah ingat, ini karya Stephen King)



Hal lain yang bisa dipetik adalah... orang-orang eh, tokoh-tokoh ini tidak menjadi diri sendiri. Dan efeknya sampai ketika mereka mencari jodoh. Karena tidak menjadi diri sendiri, ketika mendapatkan jodoh juga yang tidak cocok dengan diri mereka, melainkan yang cocok dengan peran yang mereka tunjukkan.


Efeknya, seperti yang dirasakan kakak Yeong Hye misalnya, setelah hidup bersama bertahun-tahun ternyata dia tidak mengenal pasangannya.

Kakak Ipar juga tidak bisa menjadi diri sendiri yang ternyata menyukai permainan ketika melakukan hubungan.

Dan kehadiran seorang anak yang biasa dikabarkan bisa menjadi perekat hubungan suami istri, nyaris tidak memiliki efek untuk itu.



Kalian bisa bilang..., "dia nggak begitu, saya kenal betul."

Tapi, apa kalian yakin benar-benar mengenal orang lain meskipun sudah berdekade hidup di bawah atap yang sama? Yakin memang dirinya yang sebenarnya yang selama ini ia tunjukkan, dan bukan topeng yang sudah demikian sering digunakan hingga menutupi sifat-sifat dan sikap asli?


Yakin orang yang ada di sekitar kalian "normal"? Lagi pula, memangnya "normal" itu apa? Haha. 



Tokoh-tokoh dalam naskah itu ingin bebas, itu jelas. Jadi, cobalah baca, dan lihat... betapa menyedihkan jika kalian tidak pernah mencoba menjadi diri sendiri, dan justru selalu berusaha menjadi seperti yang orang-orang harapkan.

Dan saya rasa bukan cuma wanita kok yang jadi sorotan utama Han Kang. 



Tiga Burung dan Rumah Sakit Jiwa


Yang saya tidak mengerti justru mengenai 3 ekor burung dalam genggaman Yeong Hye. 


Apa maksudnya? Setelah semua upaya penghindaran darah dan daging, mengapa 3 burung itu muncul? Itu... merusak pola, kan?


Atau..., ada yang terlewat oleh saya?


Hal lain yang mengganjal di kepala adalah: memang separah itu ya sikap untuk seorang yang memutuskan jadi vegetarian di negara Han Kang berasal? 

Saya sudah dapat penjelasan, memang. Mengenai betapa daging merajai meja makan di sana, salah satunya dari suami.



Tapi, saya baru sebatas mengetahui, belum mengerti apalagi memahami.



Selain itu, penanganan yang diperlihatkan diberikan pada Yeong Hye selalu berbentuk fisik. Padahal—apakah para dokter itu tidak melihat—kalau sakitnya lebih pada psikis. Saya bayangkan, ketika Yeong Hye dibawa ke rumah sakit karena upaya bunuh diri, tentu muncul pertanyaan: kenapa dia mau bunuh diri? Begitu sewajarnya bukan?


Kenapa? << seandainya lebih banyak orang cukup peduli untuk mengajukan pertanyaan ini.


Setelah diketahui penyebabnya adalah keinginan menjadi vegetarian yang tidak mendapat dukungan keluarga, tentu akan ada penelusuran lebih lanjut. Lewat konsultasi2 itu (?). Setelah itu, tentu akan diketahui sebab-sebabnya di antaranya adalah si bapak dan suami—dan tentu saja dirinya sendiri.


Dan biasanya, keluarganya akan dipanggil pihak dokter dan rumah sakit untuk diberi pengarahan, bagaimana sebaiknya mereka bersikap terhadap Yeong Hye. Karena kesembuhan psikis butuh dukungan orang-orang terdekat.


Tapi, lagi-lagi dengan teknik bercerita, Han Kang menghilangkan waktu-waktu tertentu. Dari masa percobaan bunuh diri yang dikisahkah suami, sudah dua tahun berlalu ketika kakak ipar mulai bercerita. Lalu, sudah berlalu beberapa waktu ketika kakak Yeong Hye bercerita.


Penghilangan setting waktu tersebut bisa jadi karena peristiwa yang terjadi dalam rentang yang hilang dianggap tidak penting, memang. Dan membantu menghemat penjelasan mengenai penanganan medis yang diterima Yeong Hye. Tapi, bukan berarti upaya penanganannya secara psikis tidak ditunjukkan, kan?



Saya tetap lebih suka Lelaki Harimau. Karena, secara kultur saya merasa lebih dekat. Jadi, saya lebih bisa memahami hal-hal yang terjadi di buku itu daripada di buku ini. 

Pages

There was an error in this gadget