Entri Populer

Thursday, 17 November 2011

Agatha Christie: Dumb Witness (Saksi Bisu)

Saksi Bisu (1937)

SINOPSIS 

Hercule Poirot kembali beraksi...!! Kasus kali ini mungkin sudah sangat umum. Pembunuhan seorang nenek demi mendapatkan harta warisan. Untungnya, wanita itu sempat menulis surat pada Hercule Poirot. Tapi sayang, sampainya dua bulan kemudian (?). Meskipun ada kemungkinan wanita tersebut meninggal secara wajar, Poirot tetap menyanggupi permintaan dari almarhumah. Hal ini dilakukan Poirot semata-mata demi memenuhi rasa ingin tahunya.

Wanita yang mengirim surat itu adalah seorang perawan tua bernama Nona Emily Arundell. Dia memiliki tiga keponakan yang akan mewarisi seluruh kekayaannya. Tetapi ketika wanita ini mati, ternyata semua hartanya diwariskan kepada pelayannya, Nona Wilhelmina Lawson. Hal ini tentu saja mengejutkan semua pihak.

Tiga orang keponakan yang tidak mendapatkan apa-apa terpaksa menerima keadaaan tersebut karena mereka tidak dapat menggugat secara hukum. Tugas Hercule Poirot adalah mengetahui motif pembunuhan dan pelakunya. Masing-masing keponakan itu memiliki alasan yang cukup kuat untuk melakukan pembunuhan.

Bersama sahabatnya, Kapten Hastings, Poirot rela melakukan penyelidikan berkeliling. Tidak cukup dengan duduk dan menggunakan sel-sel kelabu yang dibanggakannya itu. Poirot menanyai orang-orang yang terlibat, menyelidiki kemungkinan penyebab kematian nenek itu. Kapten Hastings yang hidupnya cenderung selalu lurus beberapa kali harus memarahi Poirot. Karena, Poirot melakukan hal-hal yang menurut Kapten Hastings tidak sopan seperti berbohong (yang dilakukan lebih dari satu kali oleh Poirot) dan menguping.

***

cover lama Saksi Bisu

Cover buku Saksi Bisu setelah di sebelah
Saya tidak menemukan cover terbaru (yang putih) terbitan Gramedia itu. Dalam kedua cover ini, ada dua gambar yang tetap dipertahankan. Mungkin itu mengandung arti tertentu.... (^-^)
Saya juga sudah lupa. Saya harap nanti ketika membaca lagi saya dapat mengingatnya.


Saat pertama kali membaca buku ini saya kurang tertarik karena terlalu berbelit-belit. Selain itu, jalan yang harus diambil Poirot untuk mengetahui pembunuhnya terlalu panjang, tidak seperti biasanya. Namun, hal tersebut memang ada alasannya: tidak ada bukti. Dan, dia harus hati-hati karena ada kemungkinan pembunuhnya akan melakukan pembunuhan lagi. 

Dalam novel ini, Agatha Christie menunjukkan bahwa mulai terjadi masa transisi di Inggris. Dari generasi tua yang kolot ke generasi muda yang bebas.

Selamat membaca.
(>.<)/

No comments:

Post a Comment

Pages

There was an error in this gadget