Entri Populer

Thursday, 24 November 2011

Agatha Christie: Murder in Mesopotamia (Pembunuhan di Mesopotamia)

Pembunuhan di Mesopotamia (1936)

SINOPSIS

cover seperti yang saya punya
Kasus kali ini mengambil setting di Mesopotamia. Pada sebuah sekumpulan arkeolog di sana. Cerita bermula ketika seorang suster, Suster Amy Leatheran yang sedang bimbang akan kembali ke Inggris atau menetap dulu di  daerah Timur Tengah itu. Ketika itulah datang tawaran dari Dokter Reilly. 


Dokter Reilly mempunyai seorang teman yang bernama Doktor Leidner yang sedang mencari seorang suster untuk menemani istrinya. Ketika Suster Leatheran menanyakan alasannya, mereka seolah enggan mengungkapkan alasan yang sebenarnya. Maka, suster itu mulai menebak-nebak. Apakah karena penyakit syaraf, atau narkotika, atau hal lain? Dari beberapa orang yang dijumpainya, ada pula gagasan bahwa istri doktor Leidner tidak apa-apa. Hanya mencari sensasi. Untuk mengetahui yang sebenarnya, suster itu harus menunggu agar dapat bertemu langsung dengan istri Doktor Leidner, Louise.

Ketika tiba di tempat itu, Suster itu bertemu dengan sekumpulan orang dengan hubungan yang menarik. Beberapa benci, beberapa cemburu, beberapa cinta, namun yang pasti, ada kekakuan di antara mereka. Padahal, mereka sudah satu tahun tinggal bersama. 

Sepasang suami istri Mercado. Istrinya cemburu sekali dengan Louise.
Nona Johnson yang memuja Doktor Leidner.
Richard Carey, sahabat Doktor Leidner yang tampaknya tidak bisa berdamai dengan Loise.
Pastor Lavigny yang menganggap bahwa Louise adalah wanita jahat.
Reiter, pemuda yang menjadi santapan lezat bagi Louise untuk selalu dipermainkan.
Coleman dan Emmot yang memperebutkan Sheila, anak Dokter Reilly, sekaligus juga tidak dapat menahan diri untuk tidak mengagumi Louise.
Sheila, gadis muda yang merasa seharusnya dialah yang menjadi pusat perhatian, bukan Louise yang sudah separuh baya itu.

Begitulah. Penyebab rasa cemburu yang beredar adalah karena Louise cantik sekali. Dan, pintar.
Louise menyambut baik kedatangan suster itu. Doktor Leidner merasa senang melihatnya.
 
Suster itu menyimpulkan bahwa Louise ketakutan terhadap seseorang. Namun, dia masih memerlukan waktu beberapa lama sebelum dapat memastikan apakah yang menjadi dasar ketakutan Louise itu sungguhan, imajinasi, atau buatan. Sebelum menemukan jawaban pasti, Louise terbunuh. 

Suster itu merasa sangat menyesal karena merasa telah gagal melakukan tugasnya. Namun, suaminya lebih menyesal lagi karena selama ini tidak menganggap serius ketakutan istrinya itu.


Di tengah-tengah kasus itu, kebetulan sekali, Hercule Poirot sedang berada tidak jauh dari sana. Maka mulailah Poirot melancarkan aksinya. Kali ini, dia menjadikan Suster Leatheran sebagai kaki tangannya. Namun, Poirot merasa khawatir, ya.... Dia merasa khawatir. Karena pembunuhan dapat menjadi kebiasaan. Dan sesuai prediksinya, jatuh korban kedua. Tapi, bukan Suster Leatheran, melainkan.... (hampir saja saya mengacaukan keasikan kalian membaca novel ini dengan menyebutkan nama korban kedua. Nah, sekarang sudah saya edit..., untunglah....)

Kematiannya mengerikan, karena dia menelan cairan asam korosif (HCL). Cairan yang digunakan untuk membersihkan belanga-belanga hasil penemuan penggalian. Dia terbiasa bangun tengah malam dan minum air putih. Ternyata, air itu sudah diganti dengan cairan asam dan dia sudah meminumnya. (Saya membayangkan, pasti mulut, tenggorokan, dan mungkin lambungnya, jika cairan itu sudah sampai ke sana, melepuh bahkan mungkin sebagian sudah hilang menguap. Mengerikan.) Namun saat begitu,  dia berusaha sekuat tenaga mengucapkan kata-kata terakhirnya. Anehnya, bukan nama pembunuhnya yang dia sebutkan, melainkan, "jendela... jendela...."

***

cover lama...

cover terbaru











Novel Agatha yang ini menarik. Bagi saya, kebanyakan karyanya yang ada Poirot pasti menarik, sih. Kali ini, saya membuat sinopsis salah satu novel Agatha yang saya miliki. Saya baru punya empat dari total sekitar delapan puluh karya Agatha Christie... (T_T). Sehingga, rincian namanya sedikit lebih baik. Demikian pula saya harap dengan penyampaian sinopsis cerita novel itu. Semoga sudah lebih baik.

Beberapa hari ini, tidak ada waktu untuk menulis di blog, kalopun ada waktu luang, saya gunakan untuk mengejar target tulisan saya sendiri. Semoga bisa selesai tepat waktu. Namun karena sudah beberapa hari absen, saya berusaha menebusnya hari ini. Bukan dengan intermezo berupa lirik lagu. Tapi, kembali menulis sinopsis buku versi saya.

Semoga bermanfaat.
Nah, terima kasih sudah mampir... (>.<")//

Tuesday, 22 November 2011

Pembunuh Sadis 1: Peter Kürten

Peter Kürten

Laki-laki, perempuan, anak-anak, dan binatang. Semua pernah menjadi objek pembunuh ini. Dan, dia juga suka melihat, dan kadang menghisapnya, darah yang menyembur.

 

Ketika akan dihukum penggal dengan guillotine, ia sempat bertanya pada psikiater penjara: "sesudah kepala saya menggelinding jatuh, bisakah saya mendengar, meskipun hanya sedetik, suara memancarnya darah saya sendiri dari potongan leher saya? Bila bisa, itu merupakan kenikmatan yang akan mengakhiri segala kenikmatan."
(dikutip dari buku The Legends, J. D. Rasz, terbitan Dastan Books)
-ya ampun..., ni orang bener2 suka semburan darah... (=.=")- 

 

Peter Kurten merupakan salah satu pembunuh yang memiliki latar belakang keluarga yang buruk. Mengingatkan kita akan besarnya pengaruh lingkungan keluarga terhadap perkembangan seorang anak. Saya menyertakan yang dari wikipedia saja agar lebih jelas.

From Wikipedia, the free encyclopedia
Peter Kürten

Mugshot of Peter Kürten taken in 1930 or 1931
Background information
Birth name Peter Kürten
Also known as The Vampire of Düsseldorf
Born May 26, 1883(1883-05-26)
Mülheim am Rhein
Died July 2, 1931(1931-07-02) (aged 48)
Cologne, Germany
Cause of death Decapitation by guillotine
Conviction Arson, attempted murder, burglary, theft, murder
Killings
Number of victims: Murders: 9 (possibly over 60)
Attempted: 7
Sexual assaults: unknown
Span of killings 26 May 1913–7 November 1929
Country Germany
State(s) Prussia Rhine Province
Date apprehended May 24, 1930
Peter Kürten (26 May 1883–2 July 1931) was a German serial killer dubbed The Vampire of Düsseldorf by the contemporary media. He committed a series of sex crimes, assaults and murders against adults and children, most notoriously from February to November 1929 in Düsseldorf.
 

Early life

Kürten was born into a poverty-stricken, abusive family in Mülheim am Rhein, the third of 13 children. As a child, he witnessed his alcoholic father repeatedly sexually assault his mother and his sisters. He followed in his father's footsteps, and was soon sexually abusing his sisters. He engaged in petty criminality from a young age, and was a frequent runaway. He later claimed to have committed his first murders at the age of nine, drowning two young friends while swimming. He moved with his family to Düsseldorf in 1894 and received a number of short prison sentences for various crimes, including theft and arson. As a youth he was employed by the local dogcatcher, a job which allowed him to indulge in animal cruelty.[1]
Kürten progressed from torturing animals to attacks on people. He committed his first provable murder in 1913, strangling a 10-year-old girl, Christine Klein, during the course of a burglary. His crimes were then halted by World War I and an eight-year prison sentence. In 1921 he left prison and moved to Altenburg, where he married. In 1925 he returned to Düsseldorf, where he began the series of crimes that would culminate in his capture, sentencing to death and execution.

Murders

On 8 February 1929 he assaulted a woman and molested and murdered an eight-year-old girl. On 13 February he murdered a middle-aged mechanic, stabbing him 20 times. Kürten did not attack again until August, stabbing three people in separate attacks on the 21st; murdering two sisters, aged five and 14, on the 23rd; and stabbing another woman on the 24th.[2] In September he committed a single rape and murder, brutally beating a servant girl with a hammer in woods that lay just outside of Düsseldorf. In October he attacked two women with a hammer. On 7 November he killed a five-year-old girl by strangling and stabbing her 36 times with scissors, and then sent a map to a local newspaper disclosing the location of her grave. The variety of victims and murder methods gave police the impression that more than one killer was at large: the public turned in over 900,000 different names to the police as potential suspects.
The November murder was Kürten's last, although he engaged in a spate of non-fatal hammer attacks from February to March 1930. In May he accosted a young woman named Maria Budlick; he initially took her to his home, and then to the Grafenberger Woods, where he raped but did not kill her. Budlick led the police to Kürten's home. He avoided the police, but confessed to his wife and told her to inform the police. On 24 May he was located and arrested.

Trial and execution

Kürten confessed to 79 offenses, and was charged with nine murders and seven attempted murders. He went on trial in April 1931. He initially pleaded not guilty, but after some weeks changed his plea. He was found guilty and sentenced to death.
As Kürten was awaiting execution, he was interviewed by Dr. Karl Berg, whose interviews and accompanying analysis of Kürten formed the basis of his book, The Sadist. Kürten stated to Berg that his primary motive was one of sexual pleasure. The number of stab wounds varied because it sometimes took longer to achieve orgasm; the sight of blood was integral to his sexual stimulation.
Kürten was executed on 2 July 1931 by guillotine in Cologne.[3]

Analysis

Kürten said to the legal examiners that his primary motive was to "strike back at oppressive society". He did not deny that he had sexually molested his victims, but he always claimed during his trial that this was not his primary motive.
In 1931 scientists attempted to examine irregularities in Kürten's brain in an attempt to explain his personality and behavior. His head was dissected and mummified and is currently on display at the Ripley's Believe It or Not! museum in Wisconsin Dells.[4]

Cultural references

Fritz Lang's 1931 film M, in which a serial child killer terrorizes a big city, is often said to have been based upon Kürten, but Lang denied that Kürten was an influence. Because of the similarities between Kürten and the film's villain, Hans Beckert, the film was known as The Vampire of Duesseldorf in some countries. While the location is never mentioned in the film, the dialect used by the characters and the several maps used throughout the film bearing the city's trademark bear symbol heavily suggest that the action takes place in Berlin.
The first biopic about Kürten was Robert Hossein's The Secret Killer (Le Vampire de Düsseldorf, 1965).[5] Kürten was subsequently played by Nigel Green in the LWT play Peter and Maria, written by Clive Exton and broadcast on 9 October 1970.
Playwright Anthony Neilson's 1991 work Normal: The Düsseldorf Ripper is a fictional account of Kürten's life, is told from the point of view of his defense lawyer. It was adapted for the screen as Angels Gone, and also released under the title Normal.
Randy Newman's song "In Germany Before the War" from the album Little Criminals is based on Kürten's life, with some poetic license (the song is set in 1934, for example, despite the fact that Kürten was executed in 1931). [6]
In 1981 the British noise band Whitehouse released an album titled Dedicated to Peter Kürten.
The American death metal band Macabre recorded a song called "Vampire of Düsseldorf" about Kürten.
A number of novels have made substantial mention of Kürten. In the 1975 novel Salem's Lot by Stephen King, Kürten's history is summarized by Matt Burke as part of his research into vampirism, though Kürten is referred to as 'Kurtin' throughout. In Chapter 4 of D.M. Thomas's The White Hotel (1981), the main protagonist, Frau Lisa Erdman, is haunted by Kürten's story, which she experiences as a "compulsive daylight nightmare". In the novel Swimsuit (2009) by James Patterson, Henri Benoit, a serial killer himself, makes a reference to Kürten while recounting his own crimes for an autobiography. In the Arianna FranklinCity of Shadows, one of the main characters is a police inspector who helped to catch Kurten. novel
In the movie Copycat (1995), a serial killer uses "Peter Kürten" as an alias (the protagonist, played by Sigourney Weaver, explains the reference).

Further reading

References

  1. ^ http://www.trutv.com/library/crime/serial_killers/history/kurten/killer_4.html
  2. ^ "Peter Kürten: The Vampire of Düsseldorf" Gilbert, Alexander. Crime Library. Retrieved on 2007-10-03
  3. ^ About the decapitation by executioner Carl Gröpler read in detail: Blazek, Matthias, Scharfrichter in Preußen und im Deutschen Reich 1866-1945, Stuttgart 2010, p. 74 f.
  4. ^ Raphael, Lutz; Tenorth, Heinz-Elmar, Ideen als gesellschaftliche Gestaltungskraft im Europa der Neuzeit – Beiträge für eine erneuerte Geistesgeschichte, Ed. 20, Berlin 2006, p. 432.
  5. ^ http://www.imdb.com/title/tt0058922/.
  6. ^ http://www.songfacts.com/detail.php?id=11340
  • Lane, Brian and Gregg, Wilfred (1992). The Encyclopedia of Serial Killers. Berkley Books.
  • Fuchs, Christian [1996] (2002). Bad Blood. Creation Books.
  • Cummins, Joseph S. (2001). "Cannibals: Shocking True Tales of the Last Taboo on Land and at Sea." Lyons Press.
Tidak ada alasan khusus mengapa saya memasukkannya ke nomor 1. Sebenarnya saya mungkin akan lebih memilih perempuan yang mandi dengan darah, Elisabeth Bathory.
 
-Duh, sebaiknya saya berhenti sejenak dengan pembunuhan yang asli ini. Kalo dalam fiksi, saya masih kuat berlama-lama. He....-
sudah dua hari tidak menengok blog ini. Sudah dua hari pula kerjaan nggak jelas.
fyuuhh... semoga besok, eh, hari ini ding, udah jam satu kok. Lebih baik. Amin.
terima kasih sudah mampir (=o=")//

Friday, 18 November 2011

The Beatles: Yesterday (lirik lagu)

Yesterday

the beatles
ujaaannn... :)

Yesterday,
All my troubles seemed so far away,
Now it looks as though they're here to stay,
Oh, I believe in yesterday.

Suddenly,
I'm not half the man I used to be,
There's a shadow hanging over me,
Oh, yesterday came suddenly.

Why she

Had to go I don't know, she wouldn't say.
I said,
Something wrong, now I long for yesterday.

Yesterday,

Love was such an easy game to play,
Now I need a place to hide away,
Oh, I believe in yesterday.

Why she

Had to go I don't know, she wouldn't say.
I said,
Something wrong, now I long for yesterday.

Yesterday,

Love was such an easy game to play,
Now I need a place to hide away,
Oh, I believe in yesterday.

Mm-mm-mm-mm-mm-mm-mm.



Saya nggak begitu familiar dengan The Beatles...
tapi ternyata, beberapa lagu yang saya suka (seperti biasa, saya tau lagu tapi nggak tau siapa yang nyanyi...), ternyata lagunya mereka... ---(^o^)/

Thursday, 17 November 2011

Kita sama-sama manusia: JANGAN MAU DIJUAL!!!

"Ayolah.... Kalian harus berpikir lebih panjang. Kalian pikir, kenapa teman-teman kalian mau menjadi mucikari? Karena mereka tidak mau "rusak" sendiri. Mereka tidak mau jadi jelek sendiri. Jadi, alangkah bahagianya kalau mereka dapat banyak teman, ya seperti kalian-kalian yang mau diajak itu."

Jumat, 10/06/2011 18:07 WIB

Jual Teman Satu Sekolah, Siswi SMP Diringkus

Imam Wahyudiyanta - detikSurabaya


Surabaya - Kasus gadis belia menjual temannya sendiri terjadi lagi di Surabaya. Setelah sebelumnya Polsek Dukuh Pakis mengungkap penjualan anak di bawah umur, kini giliran Polrestabes Surabaya mengungkap kasus serupa.

Kali ini petugas mengamankan FC (15), warga Jalan Kupang Jaya. Pelajar SMP kelas 3 itu diamankan saat menjual teman satu sekolahnya sendiri, CN, kepada pria hidung belang.

"Mereka kami amankan di salah satu hotel," kata Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Anom Wibowo, kepada wartawan di mapolrestabes, Jalan Taman Sikatan, Jumat (10/6/2011).

Anom menerangkan bahwa sebelum menjadi mucikari bagi temannya sendiri, Fc sebenarnya juga menjadi barang dagangan mucikari lain. Sehingga FN mempunyai banyak kenalan lelaki hidung belang. Saat naik pangkat menjadi mucikari, tak sulit bagi para pria hidung belang untuk menghubungi dan memesan gadis belia ke FC.

"FC sudah 3 kali menjual temannya sendiri," tambah Anom.

Setelah harga disepakati, FC mengantar temannya itu ke hotel yang telah dipesan sebelumnya. Disitulah FC menyerahkan temannya untuk 'digunakan' oleh para pria hidung belang. Kasus ini sendiri terbongkar setelah polisi mendapat informasi jika ada praktik trafficking di salah satu hotel di Surabaya.

"Setelah kami selidiki, kami akhirnya dapat mengamankan tersangka," lanjut Anom.

Selain mengamankan FC dan CN, petugas juga mengamankan AH (16), teman CN yang menunggu di lobby. FC dibawa sebagai tersangka sedangkan CN dan AN sebagai korban dan saksi. Kepada petugas FC mengaku bahwa ia mematok tarif Rp 700 ribu. Dari tarif itu, FC meminta komisi Rp 200 ribu dan sisanya Rp 500 ribu untuk CN.

(iwd/bdh)



Kamis, 17/11/2011 16:06 WIB

6 Siswi SMK Dilacurkan Teman Sendiri Via Facebook

Imam Wahyudiyanta - detikSurabaya




Surabaya - Enam pelajar SMA/SMK diamankan polisi dari sindikat prostitusi pelajar. Mereka yang kesemuanya berusia 17 tahun diselamatan dari tangan mucikarinya yang tak lain adalah teman sebaya mereka sendiri yakni EL (17), warga Jalan Karah V dan FR (17), warga Jalan Ploso III.

"Mereka kami amankan saat bertransaksi di Hotel Garden Palace," kata Kompol Suparti kepada wartawan, Kamis (17/11/2011).

Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya itu mengatakan, keenam korban adalah ML, warga Ngagel Rejo; CK, warga Jalan Dukuh Menanggal; NT, warga Jalan Ngagel Jaya Utara; VN, warga Jalan Manukan Tengah; OK, warga Jalan Manukan Tohirin dan AG, warga Jalan Ploso.

Keenam korban sudah 1 tahun dilacurkan kedua tersangka. Sarana untuk 'menjual' korban dilakukan melalui jaringan sosial yang sedang populer saat ini yakni facebook dan situs percakapan, MiRC. Bila sudah sepakat, maka EL akan mengantarkan mereka ke hotel yang sudah dipesan pelanggan.

"Tarifnya Rp 750 ribu untuk sekali kencan," tambah Suparti.

Dari tarif itu, Rp 500 ribu diberikan kepada korban dan sisanya untuk tersangka. Tetapi untuk jasanya mengantar korban, tersangka EL meminta tambahan Rp 100 ribu sehingga korban hanya menerima Rp 400 ribu. Baik korban dan tersangka diamankan saat dipancing ke Hotel Garden Palace di kamar 1803 dan 1809.

"Sebelumnya kedua tersangka juga pernah kami amankan dalam kasus serupa beberapa waktu lalu," tandas Suparti.

(iwd/bdh)


Setelah membaca berita ini, dalam hati saya berkata, "Ayolah.... Kalian harus berpikir lebih panjang. Kalian pikir, kenapa teman-teman kalian mau menjadi mucikari? Karena mereka tidak mau "rusak" sendiri. Mereka tidak mau jadi jelek sendiri. Jadi, alangkah bahagianya kalau mereka dapat banyak teman, ya seperti kalian-kalian yang mau diajak itu."

Menurut saya, ada 2 faktor mendasar yang membuat mereka menerima tawaran itu. Faktor lainnya mungkin psikologi (?). Atau jika ada yang memiliki tambahan pendapat, silakan berkomentar.
1. Uang.
    "Padahal hanya dapat 400-500 ribu." Begitu mungkin pikir kita ketika membaca kedua artikel di atas. Apalagi menurut saya, sebagian besar dari mereka hanya ingin memiliki alat elektronik dan kosmetik yang lagi trend. Intinya, mereka menggunakannya untuk dapat bergaul, atau terkesan "gaul", atau"cantik", atau "keren". 
    Tanpa mereka pahami efek buruk bagi masa depan, mereka memilih untuk melakukan berdasarkan apa yang ada saat ini. Sebenarnya, peran orang tua dan guru memang sangat dibutuhkan untuk menghindari hal-hal semacam ini. Setidaknya, agar rasa ingin tahu anak-anak yang masih labil tersebut tidak salah arah.

2. Terlanjur Nggak Virgin, sekalian aja dikomersilin
   Begitu biasanya yang ada dalam pikiran orang yang pernah melakukan seks sebelum menikah.Itu kan sama saja seperti, "terlanjur nyebur ke kali, sekalian aja berkubang." Kalau tidak mulai mencoba untuk berhenti dan naik dari kali itu, tidak akan bisa kering. Melakukan kesalahan bukan berarti harus tenggelam dalam kesalahan itu. KITA MANUSIA. Kita semua sama, punya akal pikiran dan hati. Nah, gunakan keduanya untuk menentukan langkah yang terbaik bagi kita.
  Mulailah berpikir positif. Perbanyak bacaan yang bermanfaat. Jika tidak berani curhat pada orang yang lebih tua (saya yakin kebanyakan tidak akan berani, kalopun curhat dengan orang yang sebaya dan dianggap dapat memaklumi), maka curhatlah pada Tuhan. Jangan menganggap rendah Tuhan kalian dengan beranggapan bahwa Dia tidak akan mau mendengar. Dia Maha Tahu dan Dia Maha Mendengar. Urusan doa dikabulkan atau tidak, itu terserah Dia. Yang penting, kita sudah mengajukan "proposal" dengan berdoa dan sudah berusaha untuk berubah.
  Orang yang pernah melakukan seks bebas nggak harus berakhir di pelacuran. Dan, orang yang udah nggak virgin nggak mesti dapet cowok brengsek. Kita sebagai perempuan harus bisa menghargai diri sendiri. Kenyataannya, mayoritas laki-laki memang menyukai fisik yang bagus. (Oh, tentu saja, itu memang sudah bawaan dasar mereka.) Mereka suka melihat keindahan fisik wanita dan mengaguminya. KECANTIKAN FISIK pasti yang dilihat pertama oleh seorang laki-laki dari seorang wanita. Mau bagaimana lagi, memang itu yang dapat dilihat paling awal. Tapi, itu tidak bertahan selamanya. Setelah melihat fisik, otak, sifat, kelakuan, keahlian, dan masih banyak faktor lagi yang menjadi pertimbangan mereka (laki-laki yang beres, ya.) untuk menjadikan seorang wanita menjadi pasangan hidup.
   Kecuali, kalau kalian ingin laki-laki yang nggak beres. Oh, saya jabarkan dulu pengertiannya. Laki-laki beres di sini, tentu saja bukan berarti laki-laki yang hidupnya lurus-lurus saja (ingat, setiap manusia tidak luput dari kesalahan). Tapi, laki-laki yang bertanggung jawab dan sehat jiwanya. Pengertian bertanggung jawab bukan laki-laki yang berkata, "Ayo kita ML, aku pasti akan bertanggung jawab." Laki-laki seperti ini justru terlihat sekali tidak mau bertanggung jawab (kalaupun memang ada yang mau bertanggung jawab, mungkin 500 banding 1).
   Laki-laki yang nggak beres itu.... Wah, banyak sekali. Tapi, ya berarti laki-laki yang tidak bertanggung jawab atau tidak sehat jiwanya. Biasanya, wanita sudah mendapat "sinyal" berupa firasat kalau laki-laki yang sedang dekat dengannya tidak beres atau ingin fisik saja atau matre atau suka berbuat kekerasan, atau agak aneh. Tapi, biasanya firasat ini disanggah oleh perasaan cinta yang berkembang di dalam hati. Itulah kenapa, biasanya orang bilang, "Kalau cinta pake otak, jangan cuma pake hati." 
-sepertinya saya kurang dapat menjabarkan dengan baik pengertian cowok beres dan cowok nggak beres ini----(~.~")>
   Cinta memang indah. Tapi, seperti sudah pernah saya tulis sebelumnya, cinta tidak melulu merupakan jawaban yang tepat untuk mengambil langkah dalam hidup.

KITA HARUS BELAJAR MENGHARGAI DIRI SENDIRI.
APA PUN YANG TELAH MENIMPA KITA, KITA BERHAK UNTUK MELANJUTKAN HIDUP SEPERTI ORANG LAIN.
KARENA, KITA SEMUA SAMA-SAMA MANUSIA.
JANGAN MAU DIRENDAHKAN ORANG LAIN HANYA KARENA SEBUAH KESALAHAN YANG PERNAH KITA BUAT. 
KITA AKUI SAJA, KITA MEMANG BODOH PERNAH MELAKUKAN KESALAHAN ITU. TAPI, KITA AKAN LEBIH BODOH LAGI KALAU MAU TERUS BERADA DALAM KESALAHAN ITU ATAU MENDENGAR OMONGAN ORANG YANG MAU AGAR KITA TERUS TERJERUMUS DAN TIDAK DAPAT BERKEMBANG.
HIDUP INI TERLALU SINGKAT UNTUK MEMIKIRKAN MASA LALU KITA DAN OMONGAN ORANG YANG HANYA INGIN MENJATUHKAN.

Semangat, perempuan Indonesia.
fyuuhh..., saya susah berhenti kalau menulis topik ini.
Semoga membawa manfaat bagi yang membaca.
Terima kasih sudah mampir (=.=")

Agatha Christie: Dumb Witness (Saksi Bisu)

Saksi Bisu (1937)

SINOPSIS 

Hercule Poirot kembali beraksi...!! Kasus kali ini mungkin sudah sangat umum. Pembunuhan seorang nenek demi mendapatkan harta warisan. Untungnya, wanita itu sempat menulis surat pada Hercule Poirot. Tapi sayang, sampainya dua bulan kemudian (?). Meskipun ada kemungkinan wanita tersebut meninggal secara wajar, Poirot tetap menyanggupi permintaan dari almarhumah. Hal ini dilakukan Poirot semata-mata demi memenuhi rasa ingin tahunya.

Wanita yang mengirim surat itu adalah seorang perawan tua bernama Nona Emily Arundell. Dia memiliki tiga keponakan yang akan mewarisi seluruh kekayaannya. Tetapi ketika wanita ini mati, ternyata semua hartanya diwariskan kepada pelayannya, Nona Wilhelmina Lawson. Hal ini tentu saja mengejutkan semua pihak.

Tiga orang keponakan yang tidak mendapatkan apa-apa terpaksa menerima keadaaan tersebut karena mereka tidak dapat menggugat secara hukum. Tugas Hercule Poirot adalah mengetahui motif pembunuhan dan pelakunya. Masing-masing keponakan itu memiliki alasan yang cukup kuat untuk melakukan pembunuhan.

Bersama sahabatnya, Kapten Hastings, Poirot rela melakukan penyelidikan berkeliling. Tidak cukup dengan duduk dan menggunakan sel-sel kelabu yang dibanggakannya itu. Poirot menanyai orang-orang yang terlibat, menyelidiki kemungkinan penyebab kematian nenek itu. Kapten Hastings yang hidupnya cenderung selalu lurus beberapa kali harus memarahi Poirot. Karena, Poirot melakukan hal-hal yang menurut Kapten Hastings tidak sopan seperti berbohong (yang dilakukan lebih dari satu kali oleh Poirot) dan menguping.

***

cover lama Saksi Bisu

Cover buku Saksi Bisu setelah di sebelah
Saya tidak menemukan cover terbaru (yang putih) terbitan Gramedia itu. Dalam kedua cover ini, ada dua gambar yang tetap dipertahankan. Mungkin itu mengandung arti tertentu.... (^-^)
Saya juga sudah lupa. Saya harap nanti ketika membaca lagi saya dapat mengingatnya.


Saat pertama kali membaca buku ini saya kurang tertarik karena terlalu berbelit-belit. Selain itu, jalan yang harus diambil Poirot untuk mengetahui pembunuhnya terlalu panjang, tidak seperti biasanya. Namun, hal tersebut memang ada alasannya: tidak ada bukti. Dan, dia harus hati-hati karena ada kemungkinan pembunuhnya akan melakukan pembunuhan lagi. 

Dalam novel ini, Agatha Christie menunjukkan bahwa mulai terjadi masa transisi di Inggris. Dari generasi tua yang kolot ke generasi muda yang bebas.

Selamat membaca.
(>.<)/

Wednesday, 16 November 2011

Helloween: Forever And One (lirik lagu)

Forever And One (neverland)
oleh: Helloween

What can I do?
Will I be getting through?
Now that I must try
To leave it all behind

Did you see

What you have done to me
So hard to justify
Slowly is passing by

Forever and one

I will miss you
However, I kiss you
Yet again
Way down in Neverland
So hard I was triyng
Tomorrow I'll still be crying
How could you hide
Your lies, your lies

Here I am

Seeing you once again
My mind's so far away
My heart's so close
to stay
Too proud to fight
I'm walking back into night
Will I ever find
Someone to believe?

Forever and one

I will miss you
However, I kiss you
Yet again
Way down in Neverland
So hard I was trying
Tomorrow I'll still be crying
How could you hide your lies
Your lies



how could tou hide your lies... (T_T)
lirik lagu lagi...
(>.<)//

Pages

There was an error in this gadget