Entri Populer

Tuesday, 27 August 2013

Agatha Christie: Crooked House (Buku Catatan Josephine)


Kembaliii dengan Agatha Christie.... >,<



Baiklah, setelah hampir dua tahun menghilang, saya kembali. Rupanya, meskipun tulisan saya seadanya, saya tetap butuh wahana untuk menulis. Yah..., karena facebook dan twitter kurang pas untuk tulisan-tulisan serupa ini, saya pun kembali ke blog saya yang mungkin sudah hampir jamuran ini.

 

Tapi, mulai sekarang saya akan rajin nyikat ni blog, lebih rajin ketimbang nyikat kamar mandi di rumah, biar blog ini kembali bersinar. Halah!

 

Buku inilah penanda kembalinya saya:


Buku Catatan Josephine (Crooked House)





cover baru gramedia yang cepat terganti dengan cover baru lagi

cover lama yang ada di perpus SMA, tempat gratis baca-baca karya Agatha, haghaghag... :D


Sinopsis


Keluarga Leonides adalah keluarga besar yang tinggal di sebuah rumah yang disebut Sophia Leonides sebagai crooked house. Kalau di buku versi Indonesianya, diartikan sebagai pondok kecil yang bobrok.

Nah, inilah para penghuni rumah itu.

Aristide Leonides : kakek; pebisnis yang sukses; pemilik rumah dan harta kekayaan keluarga.
Brenda : Istri muda Aristide. Beda usia mereka jauh sekali. Saat meninggal, Aristide berusia 88 tahun, sementara Brenda baru 34 tahun. :O
Edith de Haviland : adik ipar Leonides dari istri pertama.
Roger : anak laki-laki pertama, dipercaya memegang perusahaan utama oleh Aristide.
Clemency : istri Roger.
Phillip : adik Roger.
Magda : istri Phillip.
Sophia : anak pertama Philip dan Magda, pacar si pencerita, Charles Hayward.
Eustace : adik laki-laki sophia.
Josephine : bungsu, adik perempuan Sophia. 
Laurence Brown : guru privat Eustace dan Josephine.
Nannie : pengasuh anak (pembantu).

Agatha selalu memasukkan kisah romantis dalam karyanya. Begitu juga dalam kisah ini.

Aristide adalah orang tua yang sangat mencintai keluarganya. Dia tidak pelit. Memberi fasilitas yang baik bagi keluarganya. Lalu, siapa yang mungkin hendak membunuhnya?

Kematian Aristide adalah karena racun. Salah satu penghuni rumah itulah pelakunya. Masalah, siapa? Semua berpendapat, tidak masalah skandal pembunuhan yang terjadi ini, asalkan: pembunuh adalah orang yang tepat.
Maksudnya? Tentu saja orang luar, yang tidak memiliki hubungan darah langsung dengan keluarga besar Aristide. 

Bagi Sophia, sebelum kebenaran terungkap, dia tidak bersedia menikah dengan Charles. Di sinilah Charles terlibat. Dia mulai masuk ke dalam rumah itu, mengenali para tokoh lain, dan mempelajari mereka. Charles, sama seperti kita, mengira-ngira, siapa pembunuhnya?

Apakah Brenda sudah tak tahan menunggu Aristide meninggal dengan normal?
Ataukah benar Laurence membuat skandal dengan Brenda dan menyingkirkan Aristide?
Atau, salah satu anaknya? Roger yang sebenarnya tertekan karena diberi tanggung jawab besar? Philip yang selalu menyimpan rasa iri terhadap kepercayaan yang diberikan Aristide kepada Roger?
Atau, salah satu menantunya?

Atau…?

***
“…Aku tidak mengatakan bahwa lelaki tua itu seorang tiran dan suka menindas mereka—tidak. Dia memberi uang dan kebebasan pada mereka. Dia sangat mencintai keluarganya dan sebaliknya.”
“Kan tidak ada yang salah dengan hal itu?”
“Aku rasa ada. Bila anak-anak sudah tumbuh dewasa, orang tua seharusnya melepas mereka, atau memaksa mereka untuk melupakan orang tua mereka.”
***

Nah, rupanya cinta Aristide kepada keluarganya tidak menutup kemungkinan pembunuhan atas dirinya.

Kenapa diterjemahkan dengan judul: Buku Catatan Josephine? Bukan Pondok Bobrok atau sejenisnya?
Yah…, peran Josephine dalam novel ini sangat penting. Dia anak kecil (sekitar 12 tahun) yang karena kurang kegiatan (dia dan kakaknya home schooling) jadi suka mencuri-dengar dan mengamat-amati. Dan, dia mencatatnya dalam buku hitam kecil yang selalu dibawanya ke mana-mana.
Setelah terungkap Josephine mengetahui sesuatu, dimulailah usaha pembunuhan terhadap Josephine. Anak ini seharusnya memang jangan terlalu banyak bicara.

-----

Buku ini menurut saya adalah salah satu masterpiece Agatha Christie. Namun, tidak seperti karya Agatha yang lain, setelah membacanya, saya tidak perlu kembali ke halaman-halaman sebelumnya untuk mengecek kesesuaian alur cerita dengan penyelesaian karena penyelesaiannya telah jelas. Jelas-jelas bikin nyesek. :’(
Lagi, Agatha maen psikologi orang melalui tokoh-tokohnya. Kali ini, memang nggak ada si kepala bulat telur Poirot atau Miss “rumpi” Marple. Tapi, efeknya sama. Kita belajar tentang manusia. Ini salah satu penyebab saya suka karya Agatha. Kelogisan cerita.

Begitulah.
Beneran nggak nyesel baca buku ini, hohoho…. (^0^)

Besok-besok, saya usahakan break dengan membahas buku yang bukan Agatha dulu.
Terima kasih sudah mampir :)


2 comments:

  1. Aku pengen cover yang baru dong, sial knapa dulu punyaku malah ku swap ya duh amit2

    itu judulnya ada spoilernya ya mbak. *hening*

    ReplyDelete
  2. Haghaghag.... dasar....
    aku akhirnya dapet, bagus yang cover lama, tau....
    dapet dengan harga 10 ribu. Titip temenku...
    Namanya... mmm... siapa, ya?
    *mendadak melupakan ingatan :p

    ReplyDelete

Pages

There was an error in this gadget