Entri Populer

Thursday, 29 August 2013

Motinggo Busye: Rosa Berdosa, Rosa Berduri


Saya menemukan buku ini di tumpukan obral pada sebuah pameran (bazaar) buku di Mandala Bakti Wanitatama. Stan apa, lupa. Kalau nggak salah, harganya lima ribu atau sepuluh ribu. Kalo nggak segitu paling nggak beli, he.... Yang menarik mata saya adalah ehm, oke saya akui dengan jujur, covernya. XD

Saya ambil buku ini dan tertawa. Eh, buset…, cover zaman kapan, nih? pikir saya. Lalu, saya lihat nama penulisnya: Motinggo Busye. 

Sepertinya, saya beberapa kali mendengar nama ini. Maka, saya belilah buku ini. Beneran, nama penulisnya yang bikin saya bawa buku ini ke kasir. Bukan cover-nya. Beneran bukan. *Uhuk

Siapa itu Motinggo Busye? Silakan tanya Mbah Google.

Saking lamanya buku ini, saya bahkan lupa kalau pernah punya dan… udah pernah baca. ~..~”


Yang bikin saya baca ulang buku ini sampe abis adalah Motinggo terkenal sebagai penulis novel ehem-ehem (katanya). Saya cuma kenal Fredy S. Itu pun belum pernah baca karyanya. Segera, ahihihi…. Dramanya, Malam Jahanam sudah dua kali saya tonton ketika dipentaskan. Jadi, pengen liat karyanya yang bentuk lain. Dan, dia lahir di Lampung. Aha! Jadi…, gitu, deh.

Baru saja buku ini selesai saya baca (lagi) dan… akan saya bahas.




Cover buku Rosa Berdosa Rosa Berduri
Sumber:http://inzubooks.com/234-283-large/rosa-berdosa-rosa-berduri.jpg

Judul              : Rosa Berdosa, Rosa Berduri
Penulis           : Motinggo Busye

Penerbit         : CV Persama Indonesia

Tahun terbit  : 2000

Tebal              : 185 halaman


Sinopsis

Rosa Matondi adalah seorang wanita penggoda. Bukan, bukan pelacur atau wanita panggilan. Dia tidak minta bayaran atau merasa terpaksa atas apa yang dilakukannya. Dia murni wanita penggoda. Hobinya adalah menggoda laki-laki. Mulanya berkenalan, lalu memancing-mancing menggoda, lalu menelepon (biasanya jam 02.00—entah kenapa, tidak dijelaskan), lalu bertemu kembali, lalu kalau mood sudah tercipta pun, terjadilah ahem-ahem. 


Rosa, seperti wanita penghibur berpengalaman umumnya, digambarkan memiliki… daya tarik. Suaranya, gesture-nya. Dan, pelayanannya pun memuaskan. *nah, mulai pada kedip2 neh yang baca

Kelakuan Rosa itu membuat keluarganya dan keluarga anak gadisnya, Juli, berantakan. Rosa dan Bono, suaminya, bercerai. Julia dan suaminya, Nelson, juga bercerai. Perceraian Julia dan suaminya karena mendapati suaminya sedang berdua di kamar dengan ibunya, Rosa. Padahal, Julia tahu bagaimana kelakuan ibunya.


Rosa masih saja merajalela. Salah satu korbannya adalah pelanggan Julia. Hal inilah yang membuat Julia kembali mencampuri kehidupan ibunya, Untuk mendapatkan bantuan, dia pun meggamit ayahnya yang sudah menikah lagi, Bono, untuk membantunya merayu Rosa agar berubah. Tapi, sanggupkah Bono menghadapi rayuan Rosa?



Bahkan, kekasih Julia yang baru pun dirayunya.

Semakin sulit didapat, semakin besar hasrat Rosa untuk menguasai laki-laki itu untuk memberinya keharuman dan pesona mawar sekaligus menancapkan duri-durinya tajamnya.


Sekarang, hal-hal yang akan saya bahas.

Pertama.

Hoth.


Karena Motinggo terkenal dengan penulis ehem-ehem, saya sudah menyiapkan mental untuk adegan hot. Tapi…, saya harus kecewa karena ternyata tidak se-hot yang dibayangkan (oleh saya?). Yah…, Motinggo memang menuliskan kehidupan orang yang melakukan seks bebas, namun tidak vulgar. Ini salah satu contohnya:


“Belum pernah aku membawa suami orang ke kamar tidurku ini, kecuali kamu, Bon,” bisik Rosa.

Dan tiba-tiba saja waktu tak berfungsi bagi dua insan ini. Waktu mereka surut ke alam beberapa tahun yang silam, saat masih menikmati indahnya sebuah kehidupan perkawinan.

“Bon…, kali ini aku puas sekali…,” bisik Rosa.

“Aku juga.” (p. 102)



Sudah. Begitu. Iye, di-skip adegannya. Dasar kalian inih, maunya apa, sih?

Saya sempet mikir. Begini kok dia menuliskannya. Kenapa dihebohin? Mungkin, karena beda generasi, ya? Dulu, mungkin begini sudah termasuk hot (?).


Kedua. 

Cerita.


Entah ini naskah ditulis Motinggo tahun kapan. Tapi diterbitkan tahun 2000, berarti setahun setelah kematiannya. Cara menceritakannya masih pake cara lama. Misal, alur maju lancar, sampe bagian flashback-nya juga. Penyebutan tokoh sering kelewat lengkap: Drs. nibung SH, Drs. Daud SH. Dan sekitar 20 halaman terakhir makin banyak typo. Hadew…. 


Dari logika cerita. Saya mempertanyakan ke-lebay-an Julia. Kenapa dia harus serisau itu antara memberi tahu pelanggan salonnya bahwa Rosa itu ibunya atau bukan? Memang ngaruhnya apa kalo dia bilang: “Rosa itu ibu kandung saya.”?


Dan kerisauan itu yang akhirnya dipilih Julia untuk menutupi fakta bahwa Rosa adalah ibunya (halaman 1-83) ditutup dengan lempeng tanpa efek apa pun (p. 152). Hah?

Juga, perubahan Rosa. Secepat itu? *hela napas

Ketiga.

Amanah.


Beberapa kali saya membaca novel lama, pesan yang disampaikan penulis lawas (maaf kalo ada yang nggak berkenan dengan istilah ini) adalah untuk tenang saat menghadapi masalah. Terutama, perselingkuhan. Semarah apa pun. Semembara apa pun. Tahan. Berpura-puralah tak tahu apa-apa. Berpura-puralah tak terjadi apa-apa. Jangan langsung menyerang. Biarkan tenang dulu. Baru bicarakan. Baik-baik. Entah kalau perkembangannya tetap terjadi perang. Ahihihi… :D


*Apa saya sudah menyampaikan maksud dengan baik, ya? Mudah-mudahan sampai.


Sering geregetan dari dulu kalo baca (atau nonton) kisah yang orangnya bersabar…. Tapi, mereka-mereka itu kan lebih tua. Seiring perkembangan usia, saya pikir kadang langkah seperti itu perlu juga. Tahan dulu emosi. Baru bahas masalah yang terjadi dengan tenang. Kalau bisa, tanpa menghakimi. Kalau dihakimi, biasanya yang dilakukan orang pertama kali adalah mem-protect diri. Strategi menahan diri seperti itu sepertinya memang perlu diterapkan kadang. Kadang-kadang. ^_^

Kesimpulannya, ini novel biasa-biasa aja. Ya cerita, penceritaan, tokoh, atau amanah.


Pendapat saya ini hanya berdasarkan satu karya Motinggo, jadi tidak bisa dijadikan pukul rata pada karyanya yang lain. Lagi pula, karyanya yang ini malah nggak masuk di profilnya di wikipedia. Karyanya yang lumayan sering disebut kayaknya Tante Maryati. Entah suatu ketika nanti berjodoh ketemu atau nggak. Kalo buat niat nyari sih nggak, ah. :D



Nah, terima kasih sudah mampir. (^0^)/

3 comments:

  1. *edisi yang dihilangkan*

    “Belum pernah aku membawa suami orang ke kamar tidurku ini, kecuali kamu, Bon,” bisik Rosa.

    Ah, masa sih? Kok kamu santai begitu?

    Saya pake susuk Mas.
    Apa...susuk? Susuk apa tusuk?

    Aih Mas, omongannya saru.
    Lah saru, apanya?
    Itu, tusuk tadi.
    Yee dasar piktor. Ini lo aku habis siomay lima tusuk. Kamu mau?
    Mau mas, 15 tusuk ya, pake saos.
    Gilee, elu makan apa ngisi lumbung tuh.
    Ahh ..mas, pokoknya mau siomay sekarang.

    *setelah habis 20 tusuk siomay*

    “Bon…, kali ini aku puas sekali…,” bisik Rosa.

    “Aku juga.” (p. 102)

    ReplyDelete
  2. Haghaghag...
    Mas Dion malah ngarang sendiri...
    Iye, dikau bikin karya jga aja, Mas. Cosok kayaknya meneruskan generasi... :D

    ReplyDelete

Pages

There was an error in this gadget