Entri Populer

Thursday, 20 October 2016

Teringat Agatha Christie Jam Dua Pagi

Modus kejahatan menggunakan semacam narkoba--sehingga pasien seakan mendapat ketenangan dari pengobatan--demi menggaet harta mereka sudah sejak lama dipraktikkan.
Buktinya, Agatha Christie pernah menceritakan kisah demikian dalam salah satu bukunya. Bahkan, yang dibuat Agatha sistem kejahatannya lebih rapi sehingga wajar jika sulit dideteksi. Mungkin, hal ini juga bisa jadi salah satu alasan kenapa kita perlu membaca karya, meskipun cuma sekadar fiksi belaka. ----- Saya nyaris dengan pede akan posting status itu di facebook dengan menampilkan judul buku tersebut. Seingat saya, buku itu berjudul Destination Unknown (Menuju Negeri Antah Berantah). Tapi, demi meyakinkan diri, sebelum posting saya cek ulang. Dan setelah menemukan buku itu, kemudian membaca back cover-nya, kok beda. Kok nggak ada Poirot?



Jadi, bukan buku yang ini? Ingatan saya sudah berkhianat. Ini menyebalkan. Maka, saya mulai menelusur judul2 Agatha dan tetap tidak menemukannya. Saya perna membacanya, itu saya yakin. Hanya saja... nah, kalau tidak ada dalam judul novel tentulah cerpen. Dan kumcer Poirot tidak banyak. Jadi, cepat ketemu. Cerita yang saya maksud adalah: "Geryon dan Binatang2 Gembalaannya" Dalam buku The Labours of Hercules (Tugas-Tugas Hercules).

Baiklah, sekarang saya bisa tidur. Besok..., buku Menuju Antah Berantah harus saya baca.

Postingan ini akan jadi kenangan ketika suatu saat nanti saya baca ulang. Ternyata, saya pernah teringat Agatha Christie jam dua pagi.

Friday, 7 October 2016

The Devil’s whisper (ulasan)







Judul: The Devil’s whisper
Penulis: Miyuki Miyabe
Penerbit: Serambi
Tahun terbit: 2012; cetakan II
Tebal: 413 halaman


"Yang buruk adalah kau mencari-cari alasan untuk menjelaskan apa yang telah atau tidak kau lakukan."--p. 117

Tiga orang gadis muda yang cantik mati. Di tempat berbeda, dengan cara berbeda.

Gadis keempat, Kazuko Takagi, mulai khawatir. Mereka semua memiliki kaitan. Dia pernah memiliki kaitan dengan ketiganya. Mungkinkah dia yang berikutnya diincar?

Tapi, ketiga gadis itu tidak dibunuh. Mereka semua bunuh diri.
Benarkah seseorang bisa didorong untuk melakukan bunuh diri? Dengan cara apa?

Merasa keselamatannya terancam, Kazuko Takagi berusaha menghilang.

***

Kaitan Mamoru, seorang pemuda SMA biasa, dengan kasus tersebut adalah karena pamannya dituduh melakukan kelalaian menerobos lampu merah sehingga menyebabkan seorang gadis mati (gadis ketiga, Yoko Sugano). Rekor paman Mamoru sebagai sopir teladan selama ini seakan tidak berarti. Ia ditahan hingga proses penyelidikan selesai.

Merasa pamannya terancam menjadi tahanan, Mamoru berusaha menyelamatkannya. Ia mulai menyelidiki masa lalu korban. Dan menemukan kenyataan bahwa gadis itu pernah menjadi….

Oke, di sini ada spoiler. Kalau penasaran sama isi bukunya, silakan baca dulu.

Thursday, 22 September 2016

Inyong Bocah UNY karya Anggoro Ihank (Kesan Membaca)




"Inyong kira kuliah itu enak, kayak di FTV."


Menjadi mahasiswa, seperti perjalanan lain dalam hidup, adalah proses. Ketika kuliah di FBS UNY, saya termasuk mahasiswa yang kos-perpus-kampus. Tapi kemudian di sela-sela itu saya mulai melihat pertunjukan anak tari—yang rajin disambangi beberapa mahasiswa laki-laki karena menyaksikan anak tari latihan saja bisa menjadi penyegaran—atau menyambangi pameran TA anak seni rupa—yang dulu kesannya untuk orang-orang tertentu saja padahal siapa pun boleh masuk.

Setelah berabad-abad lulus dari sana, saya berkesempatan membaca karya TA salah satu anak seni rupa. Judulnya: Inyong Bocah UNY.

Isinya bikin ngakak, sekaligus mikir.
Asiknya bikin TA begini, kesannya pembuatnya curcol sembari menggarap. Tapi menurut saya isinya bagus. *ya iyalah, buat TA mosok sembarangan*

Dari karakter, tokohnya dapet. Berasal dari Banyumas dengan logat ngapak, tokoh ini meski kadang ngeselin, jadi lucu.

Menurut saya, logat ngapak unik. Semua logat unik. Tapi, logat ngapak baru saya dengar pertama kali di Jogja. Awal-awal mendengar, saya tidak bisa menahan tawa. Tapi toh tawa tidak melulu bermaksud menghina. Beneran lucu, lho. Lucu dalam artian unik. Apalagi kalau mereka kumpul. Saya sering senyum-senyum, menahan tawa. Soalnya, khawatir orang salah sangka.

Alurnya mengalir. Dimulai dari tokoh berpamitan kepada orang tua, lalu halangan dan rintangan selama kuliah, perjuangan untuk bertahan, ada kisah cinta juga, hingga akhirnya penyelesaian.



Jeng Jeng! Awal dateng ke kampus. Excited.


Awal datang ke kampus, pasti semangat. Ada dunia baru yang bisa dijelajahi. Apalagi yang merantau. Ngekos adalah pengalaman seru. 


Seiring perjalanan waktu~~~

Seiring berjalannya waktu, terjadi perubahan. Kuliah, tidak seperti sekolah, nyaris tanpa tuntutan. Mahasiswa harus mewaspadai dirinya sendiri. Waspada dari rasa malas, dari senggangnya waktu yang disediakan kampus sebelum ancaman DO datang. 








Hingga kemudian, tiba saat orang tua nan jauh di mata semakin intens menanyakan kelulusan untuk kesekian kalinya. Karena, lama sekali anaknya kuliah, nyaris melebihi masa tempuh ketika anaknya masih di jenjang SD. Ingin membantu, tapi tidak bisa. Mereka cuma ingin melihatmu lulus dan wisuda. Karena itu artinya mereka berhasil membekalimu dengan cukup ilmu untuk kemudian mandiri dengan kehidupanmu.


Isi komik ini sebagian adalah curcol, sebagian adalah kritikan kepada UNY—yang menurut saya bagus. 


Dosen model begini saya kira ada di mana-mana. 

Misalnya, jenis-jenis dosen yang ditampilkan. Dosen killer, dosen jarang masuk (sampe mahasiswa nggak tau orangnya yang mana, tau-tau ujian aja~~~), dosen tipe "dewa" (nilai A hanya miliknya), dan lain-lain, ngoahahahhahah..... Saya rasa, tipe-tipe dosen begini bisa ditemukan di universitas mana saja. 


Sebagian kisah dalam buku ini dapat dijadikan pembelajaran untuk mahasiswa dan calon mahasiswa berikutnya. Bahwa menjadi mahasiswa adalah perjuangan. Setidaknya, untuk membahagiakan orang tua. Ketika kuliah, pasti ada saatnya kita ingin berontak dari sistem di kampus. Tapi, demi kebahagiaan orang tua, bertahanlah sebentar lagi. Kalau tidak tahan, segera keluar dari sana. Dengan membawa ijazah tentu.



“Ada dua kepastian yang didapatkan ketika wisuda,
yang pertama adalah ijazah
dan yang kedua adalah kebahagiaan orang tua.”


Jika segmennya diperluas menjadi mahasiswa secara keseluruhan, dan bukan mahasiswa UNY saja, saya kira komik ini akan bisa diterbitkan dan laku di pasaran.


MIsalnya, mahasiswa model begini.


That feel~~~


Chapt ini kalau saya potong segini misa bikin mispersepsi, ya.
Cie..., Inyong pegangan tangan sama Kibo~~~
Ahahahahah.... *iseng*


Judul: Inyong Bocah UNY  (Buku Komik 2015)
Karya: Anggoro Ihank
Tebal: 130 halaman


Setidaknya, dengan melihatmu wisuda, orang tuamu bahagia karena merasa telah menunaikan kewajibannya. 


Wednesday, 21 September 2016

Sepotong Kisah Sepenggal Kepala karya Abdoel Semute (Kesan Membaca)




Komik ini meraih piagam penghargaan khusus dalam ajang Kosasih Award 2016. Dari empat kurator, karena bukan berasal dari dunia seni rupa sama sekali, saya hanya pernah mendengar nama Seno Gumira Ajidarma.
Seno memang penulis yang memiliki ketertarikan khusus pada lukisan.

Buku ini dicetak terbatas. Di belakang buku, ada keterangan bahwa buku ini diperbanyak dan diedarkan oleh milisi press Surabaya.



Cetakan pertama hanya 45 eksemplar. Disertai dengan keterangan bahwa pembayaran diharapkan cepat karena akan digunakan untuk memutar lagi dana tersebut. 
Hal tersebut mereka lakukan karena tentu sulit mencari penerbit mayor yang mau menerbitkan karya seperti ini. Di sisi lain, buku ini menjadi terkesan eksklusif, karena hanya ada beberapa saja--setidaknya untuk sementara. 

Dan entah bagaimana pengumuman ini menyasar ke laman facebook saya. Beberapa kawan yang berkecimpung di dunia desain pernah—kalau tidak bisa disebut sering—menyebut nama Kosasih atau menyebut ajang osasih Award ini. Maka, dengan senang hati—dan harapan tinggi mereka akan membeli—saya share postingan itu.
Setidaknya, ada yang benar-benar membeli, dan saya bisa membacanya saat ini. (⌒▽⌒)

Bagi saya, masing-masing karya memiliki kekuatan tersendiri. Beberapa pesan memang tepat disampaikan dengan ringan dan sederhana, beberapa lagi, seperti buku ini, padat dan berat.

Sebagian gambar di buku ini membuat saya berusaha bertahan untuk melihat detailnya, sebagian lagi tidak berani saya teliti. Bukan takut, tapi ini cuma karena saya membacanya tengah malam, oke?


Isinya adalah bentuk kemarahan kepada pemerintah. Kemarahan yang kemudian berujung pada kepasrahan.

Hanya yang rakus...

Pada sudut yang lain, orang2 bersembunyi di balik kursi kayu yang mereka anggap sebagai kuasa wakil Tuhan!—p. 15

Selain itu, buku ini juga mengkritisi televisi. Bagaimana besarnya pengaruh media tontonan itu kepada manusia.

Sebenarnya, mungkin bukan hanya televisi yang sangat berpengaruh pada kepala manusia saat ini, internet juga. Tapi, dipilih spesifik televisi karena salah satu yang disorot adalah iklan.


Mereka... penerus kita.



“ayo bekerja-ayo belanja sebelum mati menjemput dan kita hidup belum sempat menjajakan keserakahan, karena hanya yang rakus yang bisa bertahan hidup!”—p. 27

Kenyataannya, mental konsumtif memang kental di negara kita.
Juga, seperti teriakan lain, banyak yang berakhir terbenam dalam dada masing-masing.
Kita, pada akhirnya, selama ini selalu pasrah. Tenggelam dalam protes-protes kita sendiri.
Sementara bumi tempat kita menumpang ini semakin sengsara.
Dan kita, tidak bisa berbuat apa-apa.

Favorit.

Yah, itu interpretasi saya. Kamu bisa saja mendapat kesan yang berbeda.

Buku ini bisa jadi selingan pilihan menarik. Dan mungkin ingin kamu koleksi kalau suka dengan gaya gambarnya.

Sayang, ada salah satu halaman yang tulisannya kepotong. 


halaman terpotong


Judul: Sepotong Kisah Sepenggal Kepala
Karya: Abdoel Semute
Penerbit: Milisi Press Surabaya
Tebal: 100 halaman
Ukuran: A5



Tuesday, 20 September 2016

Tips Buat Kamu yang Mau ke Gudang Gramedia di Tajem, Yogyakarta

Baru-baru ini beredar informasi seputar buku murah di gudang Gramedia yang berlokasi di Tajem, Yogyakarta. Sebenarnya, buku murah ini sudah berlangsung selama setahun, lho. Cuma, dulu harganya memang masih kisaran 5.000-40.000. Dan kondisi gudang ramai, tapi masih bisa dimaklumi. Lalu tetiba September ini Gramedia benar-benar berniat mencuci gudang. Jadi, semua buku di dalamnya sebaiknya dikeluarkan.

Kemudian datanglah pengumuman itu: Semua buku dipukul rata, lima ribu saja.

Besar, sedang, bagus, lecek, pokoknya yang ada di Gudang silakan pilih dan bawa ke kasir. Dan itu artinya perjuangan. (҂'́)9

Karena oh karena pesona harga 5.000 per eksemplar memang aduhai, maka mulai berdatanganlah massa yang tak terduga. Beberapa kawan mulanya bertanya kepastiannya kepada saya. "Itu beneran apa hoax?"

Well, itu beneran. Dan bahkan yang nggak suka baca pun bakal tertarik dengan harga segitu.

Pengumuman setahun lalu hanya beda di: harga 5.000 s.d. 40.000, tapi gambar sudah tidak saya simpan.


Kalau kamu salah satu orang yang berminat datang ke gudang itu, berikut tips dan trik biar hunting buku kamu di sana sukses.

Langkah-Langkah Memasuki Gudang Gramedia


1.  Parkir kendaraan


Foto diambil pas gudang rame-ramenya. Bahkan gerbang lapis pertama dikerubuti orang-orang. Saya nggak jadi masuk waktu itu, bablas mamam baso. 


Parkiran motor gudang berlokasi di seberangnya. Pastikan kamu lihat kanan-kiri sebelum menyeberang dari tempat parkir. Lain hal kalau kamu pakai jasa Gojek atau Taksi.

2.  Memasuki Gerbang lapis pertama (Iya, gerbangnya dua lapis)



Ini titik lokasi pameran pertama, di halaman, tempat parkiran motor para pegawai. 


Seperti bisa dilihat di foto, jam kunjung (emang besuk orang sakit) dibagi menjadi tiga sesi.

Sesi 1: 09.00 – 10.30
Sesi 2: 11.00 – 13.30
Sesi 3: 14.00 – 15.30

Selama berada di antara gerbang lapis pertama dan kedua, kamu bisa lihat-lihat pengumuman yang tertempel di pos satpam, atau mengintip kondisi gudang dari dinding pembatas, atau melihat-lihat sekitar, sukur-sukur berani mengajak berbincang orang-orang, mana tau dapet gebetan.

3.  Memasuki Gerbang Lapis Kedua


Orang-orang pengunjung pertama yang langsung memasuki gerbang lapis pertama dan menunggu di depan gerbang lapis kedua, jam 07. 30. Jam sembilan, bagian sini sudah padat. dan gerbang pertama sudah ditutup. 


Bagi kloter pertama, biasanya tidak ada nomor antrean. Semua pengunjung sesi pertama, jika tidak terlalu membludak, akan dipersilakan masuk. Sesi kedua dan ketiga diberikan nomor antrean. Jika di dalam keluar dua orang, yang berhak masuk dua orang; jika yang keluar hanya satu orang, yang boleh masuk berikutnya hanya satu orang. Hal ini demi menghindari kesesakan di dalam gudang.

Perlu diperhatikan, meskipun kamu datang jam lima pagi dan menggelar tikar di depan gerbang gudang, gerbang lapis kedua akan tetap dibuka jam sembilan.

4. Start Hunting
Lokasi di dalam gedung Gramedia ada tiga titik: luar, lantai satu, dan lantai dua. Sebaiknya, sebelum masuk pastikan kamu tau hendak menuju ke titik mana. Ingat, waktumu dibatasi. Dan setelah pertempuran mencari dan membawa buku yang kamu mau masih ada perjuangan antre yang seakan tiada habisnya~~

Di luar


Lantai 2



Tips: Bawa kantungmu sendiri. Beberapa mengambil plastik yang ditemukan dalam perjalanan dari parkiran ke gudang. Tapi sebaiknya bawa sendiri. Dan jangan cuma satu. Ada juga yang bawa karung (beneran), dan menurut saya itu efektif.

Untuk diingat: Sekalap-kalapnya kamu mencari di antara buku-buku yang menggiurkan itu, usahakan jangan menginjak-injak buku, pleaseee….




5.  Saatnya menghitung hasil Buruan
Sebelum ke kasir, pastikan kamu melihat kondisi sekitar. Ada jalur khusus untuk partai besar. Kalau pembelianmu banyak, sebaiknya belanjaanmu disortir dulu oleh tim Gramedia agar lebih praktis. Nanti, kamu cukup bawa catatan dari petugas dan nggak perlu menggeret-geret belanjaanmu yang tak hingga itu sepanjang jalan antrean.

hop, hop... berkardus-kardus dan berkarung-karung orang beli buku~~~


Itu tulisannya yang pake kardus: Partai Besar.


Cukup bawa kertas ini ke kasir.


Kalau nggak pake kertas itu, barang-barangmu tetep dipilah-pilah sama kasir, dikelompokkan, yang artinya bikin antrean makin berasa panjang, terutama bagi yang di belakang....
Kardus yang ikut dibawa antre, dan mulai kosong. Di antara sesaknya antre bayar, di bawah terik mentari~~~


Tips: Bawa uang cash. Selain lebih cepat, ada kasir yang tidak menerima kartu.

6.  Bawa pulang hasil kekalapanmu
Pastikan kamu menerima struk pembayaran dari kasir. Ada troli yang bisa kamu gunakan untuk membawa barang-barang besar. Jangan malu bertanya, tapi yang sopan. Kamu jelas lelah, tapi panitia juga pasti lelah.

Antre~~~


Ada troli yang bisa bantu angkut barang-barangmu sampe gerbang depan.


Nah, itu dia.
Sekarang, hal-hal yang ketje dan yang nggak banget yang bisa kamu lakukan selama di gudang.

Ketje kalo kamu…


1. Sarapan, lalu bawa makanan dan minuman; karena kalau tidak, bisa-bisa kamu pingsan atau dehidrasi.

2. Antre yang rapi. Waktu di sana, saya melihat kakek-kakek yang hanya membawa dua buku untuk dibeli tapi harus antre hampir dua jam. Saya sudah sampaikan saran ke pihak gudang agar pembeli dikelompokkan berdasar sedikit banyaknya pembeli, beberapa kawan lain menyarankan agar pembeli yang sudah tua, sedang hamil, atau difabel diberi jalur sendiri. Semoga disegerakan.

3. Pilih dan pilah buku. Sebelum ke kasir, banyak pembeli yang ngaso, beristirahat setelah perjuangan umpek-umpekan di dalem. Sambil istirahat, kamu bisa pilah-pilah buku yang ternyata terbawa karena nafsu semata. Kembalikan ke dalam, ya.

Nggak Banget itu kalo kamu…


1. Marah-marah karena lelah. Hel-low, semua lelah. Saling pengertian aja, lah.

2. Mengusik kardus hasil buruan orang lain. Di atas, di dekat tangga di titik lantai 2, biasanya ada kardus. Sekilas, kelihatannya itu masih milik umum, tapi hati-hati, bisa-bisa itu sudah ada yang punya. Kalau kamu mau pakai teknik mengamankan belanjaan sebelum hunting lagi, ada baiknya bawa label nama dan lakban. Beri nama kardus atau plastik bukumu. Jadi jika ada yang mengusik, jelas niatnya nggak baik. Kalau kamu telanjur melakukannya dan orang yang punya datang dan marah-marah, berbesar hatilah. Minta maaf, bilang bahwa kamu tidak tahu itu sudah ada yang punya dan kamu nggak berniat nikung belanjaannya…. Jelaskan bahwa gebetan kawan aja nggak pernah kamu tikung apalagi belanjaan orang. *ah elah*

3. Menginjak buku. Walaupun harganya “cuma” lima ribu, buku tetaplah buku. Hargailah. Mungkin bagimu buku itu tidak berarti, tapi siapa tau itu yang dicari-cari orang di belakangmu selama ini. Walaupun waktumu dibatasi, sempatkanlah menyingkirkannya ke pinggir.

4. Menyerobot antrean. Hari gini masih nyerobot? Seriusan? Capek? Sama…. Semua capek. Kakek-kakek yang saya ceritain tadi aja berusaha bertahan sekuat tenaga, lho. Apalagi darah muda seperti kamu, masih berapi-api, kan~~~ *therlalu*







Sekian pantauan saya dari lokasi. Semoga membantu.
Oh, iya, nggak semua bukunya 5.000, lho. Yang komik 5.000 dapet 2. (˘ ˘з)-

Gudang Tajem masih buka sampai 30 September 2016; atau jika bukunya keburu habis, mungkin.
Buka setiap hari, Senin-Minggu, jam 09.00-16.00.
Selamat berburu, buku.

Tetap jaga diri dan situasi terkondisikan. Jangan sampai gara-gara buku murah membuat kelakuan kita sebagai manusia jadi murahan. 
Salam syahdudududu~~~~

(づ ̄ ³)~

Monday, 29 August 2016

Pengumuman Pemenang Giveaway Kesetiaan Mr. X

Senang membaca jawaban teman-teman yang sudah ikut giveaway ini. Dan saya sempat bingung menentukan pemenang. Setelah menatap kaca benggala *halah* akhirnya saya memilih:


Eni Lestari


ternyata kalau tahu kuncinya, tahu rahasianya,gampang kok mengerjakan soal yang kelihatan rumit. 
Nah, menurutku itu intinya belajar matematika, yaitu untuk membantu kita belajar menguak persoalan dengan pedoman sesuatu yang sudah ada



Selamat kepada pemenang terpilih. Kamu berhak mendapatkan satu eksemplar buku Kesetiaan Mr. X karya Keigo Higashino terbitan Gramedia. 

Bagi yang belum beruntung, terima kasih banyak sudah ikut menjawab. Tunggu giveaway selanjutnya, ya...!

Maaf kalo selama proses blogtour ada kesalahan atau keterlambatan. 

Terima kasih.

(^0^)/

Wednesday, 24 August 2016

Kesetiaan Mr. X [Ulasan dan Giveaway]




Judul: Kesetiaan Mr. X
Penulis: Keigo Higashino
Penerbit: Gramedia
Tebal: 320 halaman
Tahun Terbit: 2016



Ishigami guru SMA biasa. Dengan perawakan nyaris bulat dan mata sipit, ia tidak bisa dibilang menarik. Tapi, dia merasa tertarik dengan tetangganya, janda beranak satu bernama Yasuko. Agar dapat melihat Yasuko, Ishigami selalu membeli bento di tempat wanita itu bekerja. Selama ini begitu saja, dan Ishigami sudah bahagia.

Suatu ketika, Yasuko kedatangan Togashi, mantan suaminya yang masih menempelinya demi memperoleh uang. Pindah tempat beberapa kali, Yasuko dan putrinya, Misato, tetap berhasil ditemukan Togashi. Tak tahan lagi, terjadilah peristiwa itu.
Dan Ishigami muncul, menawarkan bantuan untuk membebaskan Yasuko dan Misato dari belitan perkara pembunuhan.

Yasuko pun teringat cerita Sayoko, guru matematika ini sepertinya tertarik padanya …. Andai tidak mendengar cerita ini sebelumnya, yasuko pasti akan meragukan nyali Ishigami.—p. 39

Yasuko dan Misato cukup mengikuti instruksi Ishigami. Dan sejauh ini tampaknya berhasil. Alibi ibu dan anak itu memang meragukan, tapi mereka juga tidak berubah status dari “tersangka”. Polisi tidak berhasil menemukan bukti yang bisa membuat mereka ditangkap tapi juga tidak ingin melepaskan perhatian dari keduanya.

Hingga kemudian muncul Yukawa. Bisa dibilang, Yukawa adalah teman Ishigami. Keduanya sama-sama genius, tapi beda bidang. Yukawa fisika dan Ishigami matematika. Keduanya mencintai masing-masing bidang, tapi seperti yang kita semua tahu: cinta saja sering tidak cukup.

Mereka hanya ingin meneliti kajian kesukaan masing-masing tanpa perlu direpotkan oleh hal lain. Tapi kenyataannya, keinginan itu berbenturan dengan berbagai kepentingan dalam kehidupan, dan mereka berusaha menghadapinya dengan cara sendiri-sendiri.

Terdesak oleh perubahan drastis dalam kehidupannya, Ishigami memilih menukar semua kemampuan yang seharusnya bisa membawanya menjadi dosen demi makanan.—p. 97

Yukawa adalah kawan dengan kemampuan berpikir yang sepadan dengan Ishigami. Tapi, itu juga berarti Yukawa adalah lawan yang berat. Begitu mengetahui polisi yang bertugas mengungkap pembunuhan Togashi sering berbincang dengan Yukawa, Ishigashi bisa menerka bahwa soal yang dibuatnya untuk polisi bisa jadi dipecahkan oleh Yukawa.

Belum lagi, ada kehadiran Kudo yang jelas-jelas terlihat tertarik dan berhasil menarik perhatian Yusako. Apakah Ishigami merelakan Yusako dengan laki-laki lain setelah semua yang dia lakukan, atau dia akan melakukan tindakan lain yang lebih mengejutkan?

Pertanyaan terbesar adalah:
Bagaimana Ishigami memindahkan mayat Togashi dari apartemen mereka ke pinggir sungai yang berjarak puluhan kilometer?
Tanpa mobil.
Tanpa menarik perhatian banyak orang?


Ketika berhasil mengetahui semuanya, Yukawa hanya berkata, 
“Begitu…”, lalu menundukkan kepala dan terdiam. 

Terlalu terkejut untuk berkata-kata. Saya juga. 


Ketika sebagai pembaca mengetahui apa yang dilakukan Ishigami untuk menyingkirkan mayat itu, saya juga ingin berkata seperti Yukawa:

"Anda tidak tahu apa-apa tentang dirinya: betapa dia mencintai Anda dan tentang kerelaannya mengorbankan seluruh kehidupannya demi Anda."

***

Meski berisi pembunuhan, bagi saya, dasar kisah dalam buku ini adalah cinta.
Salah satu jenis cinta yang tak terduga. 


"Kadang demi menolong seseorang, yang harus kita lakukan hanyalah hadir di tempat itu."

***

Matematika dan Gunanya dalam Kehidupan Nyata

Semasa sekolah, salah seorang kawan pernah bertanya kepada guru matematika kami. Kira-kira begini:

“Untuk apa mempelajari rumus-rumus ini, Bu? Toh nggak bisa digunakan di kehidupan nyata.”

Saya tersentak karena keberaniannya bertanya.
Guru saya tersentak—mungkin karena tak pernah terbayangkan salah satu muridnya mengajukan pertanyaan seperti itu.

Di buku ini, Ishigami juga mendapatkan pertanyaan serupa:

“Apa sih gunanya hitungan diferensial dan integral? Buang-buang waktu saja!”—p. 129

“Untuk apa seseorang belajar matematika?”—p. 130

Dan ya, seperti kata Ishigami.
“Sayangnya, sedikit sekali guru yang bersedia menjawab pertanyaan sederhana itu. Tidak, mungkin justru karena mereka tidak bisa menjawabnya.”—p. 220

Guru saya tidak menjawab. Entah tidak mau atau tidak bisa.
Tapi di buku ini, Ishigami memberikan jawaban menarik kepada muridnya.

Kalau penasaran dengan jawaban Ishikawa, temukan dan baca buku ini. (づ ̄ ³)~

Atau, coba ikut giveaway.


***

Saatnya Giveaway… \('')/




Akan ada satu buku Kesetiaan Mr. X buat kamu.
Syaratnya:
1.  Pastikan kamu berdomisili di Indonesia.
2. Follow akun twitter saya (nggak harus) dan akun Gramedia.
3. Share link giveaway ini melalui media sosial kalian (nggak harus twitter) dengan hashtag #MrXBlogTour.
4. Jawab pertanyaan berikut:

Menurut kalian, untuk apa seseorang belajar rumus-rumus rumit matematika—selain tambah-kurang-kali-bagi?

5. Tulis nama, link share, alamat email, dan jawaban di kolom komentar.
6. Jawaban paling menarik yang terpilih akan jadi pemenang.
7. Giveaway ini hanya berlangsung 2 hari aja: 24 Agustus 2016-25Agustus 2016. Pengumuman pemenang serentak pada tanggal 29 Agustus 2016 bersama host yang lain.

Nah, semoga beruntung. (ʃƪ)


Thursday, 11 August 2016

Dua Peribahasa bagi Seorang Tersangka Pembunuhan

Ulasan Novel Konspirasi Takdir Karya Jeffrey Archer





Judul: Konspirasi Takdir [A Prisoner of Birth]
Penulis: Jeffrey Archer
Penerbit: Gramedia, 2008
Halaman: 616

Bagai Jatuh Tertimba Tangga

Tangga besi pula.

Mungkin itu peribahasa yang cocok menggambarkan kondisi Danny Cartwright (iya, nama keluarganya mirip Rianti, artis Indonesia yang mirip saya). Suatu hari, dia melamar pacarnya, Beth Wilson. Kemudian, dia, Beth, dan Bernie Wilson—kakak Beth, mengadakan semacam perayaan atas lamaran itu di Dunlop Arms—semacam kedai tempat minum.

Nahas, pengunjung lain di sana, empat orang laki-laki, mulai resek. Awalnya, salah satu dari mereka ngasih celetukan merendahkan. Karena tidak ditanggapi, celetukan itu semakin menjadi. Pancingan berhasil. Mereka berkelahi. Ketika pertengkaran sepertinya sudah akan dimenangkan tunangan dan kakaknya, Beth memanggil taksi. Hanya beberapa menit dia pergi. Tapi, yang dibutuhkan Beth kemudian ternyata bukan lagi taksi, melainkan ambulans.

Bernie tidak selamat selama di perjalanan menuju rumah sakit. Beberapa tusukan di tubuhnya membuat ia kehabisan terlalu banyak darah. Dan yang menjadi tersangka adalah Danny.
Danny dan Beth tidak menyangka, keempat orang yang ada di Dunlop Arms malam itu adalah orang-orang dengan posisi terhormat di masyarakat: pengacara, aktor, aristrokat, dan rekanan perusahaan terkemuka. Sementara Danny hanya karyawan bengkel. Dan satu-satunya saksi yang menguatkan dia adalah tunangannya, yang mungkin membelanya berdasarkan cinta.

Kepada siapa memangnya juri akan memihak?

***

Bagai Mendapat Durian Runtuh

Durian montong pula.

Setelah kesialan bertubi-tubi, Danny mendapat kesempatan emas. Justru kesempatan itu ia dapatkan di penjara. Dengan memberanikan diri mengambil risiko, dia berhasil bebas—dan kaya. Mulailah saatnya membalas dendam.

***

“Tugasmu membela klienmu sebaik mungkin, bersalah maupun tidak.”—p. 57 
Hal yang menarik dari buku ini bagi saya justru cara bekerja pengacara, jaksa, dan hakim ketika persidangan berlangsung.

Pertarungan Alex Redmayne—pembela Danny dengan Arnold Pearson—jaksa, mewakili kerajaan.

Misalnya, pertanyaan pertama Pearson untuk Beth. Bukannya bertanya “di mana Anda pada tanggal xxx”, atau “apa yang Anda lihat”, atau sejenisnya, ia malah bertanya:

“Miss Wilson, apa sarapan Anda pagi ini?”

Mengejutkan, memang. Seolah tidak terkait dengan kasus. Dan pasti saksi malah jadi bingung. Namun ternyata kaitannya adalah:

“Anda tidak ingat sarapan Anda pagi ini, tapi Anda ingat sekali ucapan yang Anda dengar enam bulan lalu.”

***


Saya mulai hilang kesabaran di halaman 480-an. Aksi pembalasan dendam Danny tidak bisa saya nikmati.


Malah kayak sinetron, pikir saya. Panjang betul dijabarinnya.

Jauh sebelumnya, pada saat pertemuan Danny dengan rekan satu selnya, Nick dan Big Al, saya sudah sempat mengernyit. Nick dan Big Al bisa dikatakan sangat baik kepada Danny. Kelewat baik untuk orang yang baru kenal. Dan saya sependapat dengan Big Al: ngapain Nick sampe ngajarin Danny cara makan di restoran mewah?

*spoiler*
Bahkan, Nick membuat wasiat kalau dia mewariskan seluruh hartanya kepada Danny.
*spoiler end*

Masalahnya, karakter Danny nggak memikat pembaca—saya—seperti dia berhasil memikat Nick, Big Al, dan tokoh lain yang membelanya mati-matian.
Memang, dia berusaha berjuang melawan tuduhan pembunuhan. Bahkan tawaran agar dia mau mengakui saja pembunuhan itu agar hukumannya jauh lebih ringan ditolaknya.

“Kalau kau menerima tawaran itu (mengakui), kau dapat meniti hidup bersama Beth dalam kurun 2 tahun.” 
“Hidup macam apa?”—101

Tapi nggak seistimewa itu karakternya. Bahkan, dia sempat merendahkan orang berdasarkan latar belakang.

Ia [Danny] membayangkan apakah Molly akan seterpesona itu jika tahu bahwa dia baru saja melayani anak tukang parkir di Grimsby Borough Council.—p. 485

Memang kenapa kalau dia anak tukang parkir? -____-“

Tapi, saya jadi ingat jawabannya—kenapa Danny bisa mendapat dua peribahasa tersebut—ketika melihat judul buku ini: Mungkin, itu semua memang konspirasi takdir. [*]



Pages

There was an error in this gadget