Entri Populer

Thursday, 12 January 2017

Boneka itu Tidak Benar-Benar Tidur (Review Naskah The Sleeping Doll karya Jeffery Deaver)



Sudah lama saya tidak berminat menulis ulasan buku. Waktu dan tenaga yang digunakan untuk menulis kesan terhadap sebuah buku bisa digunakan untuk membaca buku yang lain lagi.
Namun, menulis juga merupakan latihan. Dan merupakan peninggalan.

Ketika mengecek beberapa buku yang saya baca pada tahun-tahun sebelumnya, saya menemukan kenyataan bahwa sebagian besar isinya tidak bisa saya ingat. Saya terkesan sesaat setelah membaca, tapi kemudian lupa buku itu berkisah mengenai apa atau pelajaran apa yang saya uplik dari buku tersebut.

Berbarengan dengan itu, hadir RRC BBI 2017. Saya pernah ikut sekali sepertinya, duluuuu sekali. Baru kali ini saya melihat event RRC BBI pada awal tahun, dan berniat mengikutinya.

Dan jika ditunda—sejauh ini sudah lima buku—saya pasti tidak jadi melaksanakan niat baik ini.

Ini adalah buku kedua yang saya baca tahun 2017. Setelah membaca buku-buku beraroma manis, saya merasa penat dan butuh sentakkan. Maka, saya membongkar timbunan dan mencari buku thriller. Dan pilihan saya jatuh kepada The Sleeping Doll karya Jeffery Deaver.

Buku pertama Jeffery Deaver yang saya baca sebelum ini adalah Speaking in Tongues (Lidah Tak Bertulang).

***

Pada buku ini, Jeffery memperkenalkan tokoh utama baru, seorang interrogator bernama Kathryn Dance. Ia bertugas mewawancarai Daniel Pell, seorang penjahat yang delapan tahun lalu membunuh seluruh keluarga dan seorang rekannya dengan keji. Yang Daniel tidak tahu, di rumah itu masih ada seorang anak yang tidur di kamar, di antara boneka, saat pembunuhan tersebut terjadi. Anak itu dikenal dengan sebutan “Boneka Tidur”.

Ternyata, dalam pertemuan pertama tersebut, keduanya saling mempelajari dan mengakui keunggulan pengaruh tekanan dan pesona masing-masing. Cathryn mengakui Daniell memang karismatis dan Daniel mengakui Cathryn memang cerdas.

Setelah wawancara itu pula, Daniel Pell melarikan diri dan pembunuhan-pembunuhan pun kembali terjadi.

Sementara korban berjatuhan, Kathryn terus berusaha mengulik masa lalu Daniel Pell, mengumpulkan orang-orang yang pernah terkait dengan Daniel. Orang-orang yang pernah tinggal bersama Daniel: Samantha, Linda, dan Rebecca. Ketiganya, bersama Newberg—yang kemudian dibunuh Pell pernah tinggal bersama Pell dan disebut “Keluarga”. Atau, bisa juga disebut pengikut. Ketiganya sebenarnya sudah tidak mau ada urusan dengan Daniel Pell.

"Sungguh lucu bagaimana kau ingin lolos dari masa lalu. Rasanya seperti anjing yang dirantai. Tak peduli seberapa jauh ia berlari, ia tak pernah bisa bebas."--p. 408

Tapi, mereka juga tidak mau Daniel berkeliaran dan kembali membunuh.

Karena Daniel dianggap berkompeten menjadi pemimpin sekte—ia pernah memiliki ketiga wanita itu sebagai pengikut setia—FBI mengirim Winston Kellog, seorang ahli di bidang sekte. Kathryn juga mendapat bantuan dari Nigel, seorang penulis yang tertarik mengangkat kisah mengenai korban Pell yang selamat, si Boneka Tidur. Bahkan, Cathryn berupaya keras mencari tahu keberadaan si Boneka Tidur untuk mempelajari pola pikir Daniel yang tidak biasa.

Daniel memang tidak tampak seperti kebanyakan penjahat yang ditemui Kathryn. Sebagai pelarian, ia tidak memilih segera menjauh agar lolos dari pengejaran. Daniel justru masih berkeliaran di daerah tersebut. Kathryn memang membutuhkan bantuan dari segala sisi untuk mendapatkan setidaknya petunjuk untuk mengetahui alasan Daniel tetap di sana, dan berhasil menemukan Daniel pada targetnya yang berikutnya.

Dan kunci penyelesaian kasus ini memang ada pada kisah si Boneka Tidur. Lagi pula, ternyata malam itu ia tidak benar-benar tidur.

Tampaknya, semua orang memang pembohong….

***

Membaca buku ini seperti menonton film action. Polisi dan penjahat bukan hanya adu tindakan, tapi juga kepintaran. Dan, sama seperti buku pertamanya yang saya baca, di buku ini Jeffery tetap menjaga “kewarasan” para tokohnya. Maksud saya, nggak ada adegan sia-sia atau nggak banget. Tindakan yang diambil para tokohnya memang tindakan yang paling mungkin diambil jika kita berada pada posisi mereka.

Kisah seperti ini seringnya membuat saya bertanya-tanya: bagaimana jika saya berada pada posisi seperti itu?

Dan saat terjepit, Cathryn mengandalkan tebakannya atas informasi yang terkumpul. Iya, ia belum memastikan kebenarannya. Namun, kondisinya yang terjepit membuatnya bertaruh.

Menariknya, meskipun model buku ini adalah “penjahatnya ketahuan duluan”, Jeffery tetap menyisakan twist. Beberapa twist, bahkan. Dan Jeffery pandai membawa pembaca pada situasi yang dialami para tokoh. Sehingga ketika tokoh yang saya sukai terancam, saya ikut panik. Dan berharap tokoh itu akan baik-baik saja.

Mengikuti cara kerja Cathryn sebenarnya rada geregetan. Andalannya adalah mendeteksi kebohongan. Sepanjang buku, kita diberi penjelasan bagaimana ciri orang-orang yang berbohong—yang saya rasa aslinya tidak mudah dan butuh banyak pengalaman sebelum menjadi ahli.
"Orang cenderung tidak banyak berbohong saat bisa melihat diri sendiri.--p. 17"




Judul: The Sleeping Doll (Boneka Tidur)
Penulis: Jeffery Deaver
Penerbit: Gramedia
Tebal: 632 halaman.
Tahun terbit: 2007
ISBN: 9789792270440

No comments:

Post a Comment

Pages

There was an error in this gadget